Prolog I : Pergi Dari Deli

A ku pergi seakan lama akan kembali, perasaan dan detak waktu yang berjalan saat packing adalah bagian dari rencana yang harus dilalui...


Aku pergi seakan lama akan kembali, perasaan dan detak waktu yang berjalan saat packing adalah bagian dari rencana yang harus dilalui dengan penuh rasa gelisah. Kali ini harus kutinggalkan kembali kedua Orang Tua dan kedua saudara ku. Masa-masa ini tidak kali ini saja terjadi, saat akan masuk SMP dan masuk Kuliah momen yang sama juga terjadi.

Meninggalkan mereka pada saat itu adalah tuntutan pendidikan, sebab aku harus menuntut ilmu di kota-kota yang berbeda. Namun kali ini ada yang berbeda, kali ini memiliki multi misi. Kegelisahan yang kuat harus dilalui dan harus kutinggal di Kota Medan. Medan bagi ku adalah kota tempat belajar jadi orang dewasa, belajar idealisme, belajar menyelesaikan masalah dan belajar berorganisasi.

Sebab masa persiapan dan pembekalan di Kota Medan telah berakhir, maka packing ku juga harus berakhir. Esoknya tepat pukul sebelas aku harus meninggalkan rumah kontrakan yang baru saja aku dan adik perempuan ku tempati, hal itu juga yang menyebabkan kedua Orang Tua ku berkunjung ke Medan. Kondisi pada saat itu membuat aku cukup merasa senang dengan kehadiran mereka, sebab aku dapat pamit dengan baik kepada keduanya.

Dalam masa saat meninggalkan rumah keluar dari pagar terdengar sorak kecil dari dalam : "Kris mama photo dulu" selang aku membalikan badan sosok perempuan yang jarang kutemui pasca SD itu telah siap memotret diri ku yang sedang menggendong kedua ransel. Ini seperti drama saja, tapi itulah yang terjadi. Mungkin baginya saat-saat itu adalah moment dimana mula dia akan melepas anaknya merantau, seperti budaya dari Nagari Minangkabau yang merepresentasikan budaya tersebut lewat pepatah : "Karantau madang di hulu Babungo babuah balun Marantau bujang dahulu Di kampuang paguno balun"

Langkah ku ayunkan hingga tiba di pinggir jalan, Badara Kualanamu jadi tujuan pertama ku.
Di kota Medan biasanya bila ingin kebandara aku cukup menunggu di jalan yang dilalui Bus Damri, Rumah kontrakan sangat dekat dari titik tersebut, dari rumah aku menggunakan Betor (Becak Bermotor) utnuk sampai ke Makam Pahlawan yang terletak di Jln. Sisingamangaraja yang sering disebut SM Raja, dari sana nantinya aku menunggu Bus Damri lewat yang ke arah Bandara.
Dari Kota Medan menuju Bandara menggunakan Bus Damri akan dikenakan biaya IDR 20K. Menunggu Bus di Makam Pahlawan ini akan bayak tawaran angkutan lain yang datang,
Travel pribadi dan Taxi akan menghampiri untuk menawarkan antaran menuju Badara, tarifnya beragam mulai dari IDR 50K sampai 150K. 

Saat menunggu Bus aku juga mengalami banyak tawaran dari angkutan lain, diantaranya Taxi yang mencoba merayuku dengan membayar IDR 100K. Namun karna ingin menghemat budget tawaran tersebut ku tolak, dengan alasan menunggu Damri saja. Taxi tersebut berlalu, berkali-kali ditawarkan Taxi, akhirnya aku jadi luluh dengan kegigihan seorang supir Taxi yang sempat pergi dan memutar Taxinya untuk kembali menerima negosiasi akhir IDR 50K yang sempat aku sampaikan untuk menolak tawaran. Akhirnya kami melaju menuju Bandara Kualanamu, mulai Pergi dari Deli.

You Might Also Like

2 komentar

Instagram