Kereta Tanpa Gerbong (Gagal) Menuju Bogor

Bergantilah siang dan malam di jakarta, hiruk pikuknya tiada berubah, tumpah ruah kepadatannya hanya kematian yang mengurangi, kesibukan ...


Bergantilah siang dan malam di jakarta, hiruk pikuknya tiada berubah, tumpah ruah kepadatannya hanya kematian yang mengurangi, kesibukan kotanya tiada berganti. Waktu aku di kota ini juga terus bergulir, dan rencana ku tetap harus aku jalankan. Aku telah mendaftar disalah satu lembaga kursus bahasa inggris yang fokus pada persiapan menghadapi tes TOEFL di Kota kediri tepatnya di Kecamatan Pare yang biasa sering disebut kampung inggris.

Rencana awal aku ingin berangkat mennggunakan dari Jakarta tujuan Kediri menggunakan Kereta Api, yang dikelola oleh KAI Kereta Api Indonesia. Teman ku yang mendengar rencana ku tersebut sempat menawarkan untuk ikut bersama teman-teman kampusnya dahulu untuk pakai mobil saja hingga jogja, lalu dari jogja bisa naik bus atau kereta. Bagi ku tawaran itu sangat menrik bisa melaju dengan mobil hingga Yogjakarta. Selain itu yang membuat aku lebih tertarik adalah perjalanan ini sebenarnya perjalanan pendakian Gunung Merbabu.

Merbabu adalah Gunung yang pertama kali aku daki di Pulau Jawa. Beberapa hari sebelum keberangkatan selalu membuat ku lebih semangat, segala persiapan aku persiapan untuk pendakian. mencari gambar-gambar di google sesekali ku intip-intip. Pertanyaan tentang rencana perjalaan semakin ditai kutanya kan pada kawan ku mamet. Mulai harinya kapan, ngumpulnya dimana, brapa orang yang ikut.

Dari banyak pertanyaan tersebut, ketika diberitahukannya kalau kita berangkat menggunakan mobilnya dari bogor, kemudian aku bertanya lebih menyidik :
     Met (Mamet) kebogornya kita nanti pake apa?
Kita nanti pakai kereta lah kebogor...
Ouh pake kereta! seru ku sambil terheran bertanya dalam hati...

Rasa heran itu berlarut hingga hari keberangkatan tiba. Keril sudah mantap dipacking, siap berangkat menuju Bogor hari itu. hari sudah menunjukkan pukul 11.00 wib, namun tidak ada juga tanda tanda kawanku mengajak untuk bersiap, saat ku tanyakan jam berapa mau jalan? Katanya abis sholat zuhur nanti kita jalan. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 13.00 wib namun tidak juga ada tanda-tanda.

Aku masih tidak bisa membayangkan capeknya nyandang keril di kereta berjam-jam terlebih bila jalan malam ke Bogor. Rasa tak sabar itu harus aku luapkan dengan kembali bertanya :
     Met udah jam setengah dua ni, jam berapa lagi nanti sampai Bogor..?
Udah santai aja, tunggu kabar dari teman ku nanti.
     Jadi memang beneran mau naik kereta ke Bogor ni?
Iyalah, jadi mau naik apa lagi..? Tanya Mamet meyidik
     Gak susah nanti bawak keril dua sambil boncengan...?
Kita naik kereta kris ngapain boncengan...?

Seketika aku tertawa lepas tanpa menahan sedikit pun, sambil menggelengan kepala, tampak si Mamet tertawa menunjukan herannya mulai paham dengan apa yang aku tertawakan.

Ada kesalah pahaman akibat adanya perbedaan pemakaian kata diantara kami, aku yang lupa sedang berada di Jakarta, dan masih berasa di Medan memnganggap kereta yang disebutkan Mamet adalah kereta yang disebut orang medan, yang dalam bahasa Indonesianya adalah "Motor". Seketika hilang setres menunggu ku, akibat otak ku yang lagi gak singkron belum adaptif, masih terbawa rasa anak Medan.

Akhirnya pukul 15.00 kami mulai jalan, namu rencana berubah, kami gak jadi naik kereta, dan gak jadi ke Bogor. Tujuannya berubah ke UKI, berubahnya tujuan karena konfirmasi dari teman Mamet yang minta ketemu disana saja, dan kami pun naik angkot untuk sampai ke halte busway terdekat dari rawabelong. Membayangkan membawa keril boncengan naik motor, gak kalah capenya dengan naik busway berdiri dari Palmerah transit Harmoni lanjut ke Cawang UKI, jam keberangkatan kami memang waktu dimana tidak mendapatkan tempat duduk di Trans Jakarta menjadi hal lumrah yang harus di maklumi.

Setelah bersandar sana sini, mengganti posisi kaki, akhirnya kami tiba juga. Menunggu yang di tunggu teman-teman dari Bogor yang belum tiba, kami menyempatkan untuk makan terlebih dahulu, saat itu kami memilih sate Padang untuk menghibur hati yang rusuh saat di busway tadi, kenapa sate padang karna request dari pacar ku yang berusaha menyusul kami kecawang dia sendiri udah setahun lebih kerja di jakarta. Anggap aja waktu itu nganterin, apa lagi aku cuma sebentar di jakarta.

Setelah kenyang, tidak beberapa lama teman-teman dari Bogor tiba, kami pun segera membayar apa yang kami makan dan beranjak untuk mendatangi mereka.

 Setelah mengatur susunan keril di bagasi, kami masuk kemobil untuk segera berangkat, formasi saat itu dua tiga dua terhitung dari depan total di dalam mobil 7 manusia dan 7 beban anak manusia. Cukup padat kondisi dalam mobil, kami hanya bisa bersyukur dan berusaha menikmati perjalanan yang lumayan macet mulai pintu tol.

Setelah kami masuk tol, perlahan kecepatan mobil bertambah. Malam yang disilaukan oleh sorotan-sorotan lampu mobil lainnya, selalu membuat mataku cepat lelah, dan mengakibatkan mata ku terasa berat untuk di buka. Akhirnya aku berlalu bersama laju mobil yang mengantarkan aku ke negri mimpi.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram