Makhluk Modern Nomaden Hingga Terkoneksinya Generasi Muda

Datang tidak dijemput pulang tidak diantar, begitulah untuk hari-hari ku di Ibukota jakarta, udah kayak setan aja. Manusia-manusia di J...


Datang tidak dijemput pulang tidak diantar, begitulah untuk hari-hari ku di Ibukota jakarta, udah kayak setan aja. Manusia-manusia di Jakarta sibuk semua, hampir sebahagian besar dari orangnya individual, kalaupun ada yang tidak, mereka dipaksa enggan untuk berbagi dan bersahaja oleh keadaan.

Keadaan juga memaksa aku yang belum juga lama di kota yang paling beragam di Indonesia ini, tapi aku tidak menghapuskan karakter ketimuran itu, hanya saja kusimpan di tempat yang mudah untuk dijangkau kembali, seandai dalam waktu tertentu aku dapat dengan cepat mengembalikannya.

Jakarta bukan lah tujuan utama ku, namun aku harus berada disini untuk beberapa waktu. sambil menikmati misi di kota ini, diantaranya aku bersilaturrahmi dengan saudara-saudara yang aku rasa sudah tidak terlalu akrab lagi lantaran sudah lama tak bertemu. Terkait silaturahmi hal yang selalu membuat bersemangat adalah bertemu teman-teman.

Memiliki banyak teman sangat menyenangkan, karena itu juga dalam setiap perjalanan aku sangat senang kalau bisa ketemu teman baru, seperti yang pernah aku jelaskan di "Tragel". Biar agak lebih nyantai aku sebut saja kawan-kawan, kareana biasanya seperti itu adanya. Sebenarnya kawan-kawan ku bukan hanya di Jakarta saja mereka terpencar dalam geografis yang sering disebut JADETABEK yang kepanjangannya Jakarta Depok Tanggerang--------------Bekasi, jangan ketawa!

Kalau di hitung kawan-kawan ini ada sekitar 50 orang, versi malas ngitung. Sebagai orang sumatera apa lagi yang aslinya anak pulau, segitu bisa dikatakan banyak juga kan. Kawan-kawan itu terdiri dari Kawan SD, SMP-SMA, Kuliah, Organisasi. itu yang saling kenal ya, kalau yang enggak bisa lebih banyak lagi.

Karna pada mencar daerahnya, dan terbagi koneksinya, sangat sulit kalau mau dikumpulkan, oleh sebab itu aku harus bagi waktu baut nemuin satu persatu, satu per 3, satu perlainnya.tapi sudahlah gak usah ngitung-ngitung.

Intinya karna banyak sodara teman dan lainnya, aku gak hanya harus atur waktu buat pertemuan, tapi aku harus atur jadwal buat nginep dirumah atau kosan mereka, semua memperebutkan ku, berebut ngajak tidur, ngajak tidur kerumah maksudnya. Diantara empat daerah yang aku sebutkan tadi cuma Bekasi yang belum pernah, mau gimana lagi tempatnya di bekasi, gak perlulah aku jelasin panjang lebar.


Sebenarnya ada yang lebih jauh dari itu, tempatnya di Tanggerang, kalau hanya dengar tanggerang, rasanya pasti dekat, tapi Tanggerangnya yang mana dulu. Kalau pernah dengar yang namanya Rajeg, di situ tempatnya, kawan aku disitu udah punya rumah sendiri, hebatkan? Dia ini kerja di salah satu BUMN dekat Bandara di Cengkareng, hahahahah, kasihan yang gak ngeh.

Kawan satu ini kawan dari kuliah jadi walaupun jauh, aku pastikan bisa nginap disana, apa lagi dia bilang udah kangen, udah rindu, maklum masih jomblo belum ada perempuan yang bisa menaklukkan hatinya, terpaksa aku jadi pelampiasan, kalau kamu ada yang minat gak? kalau ada bilang aja ke aku, biar disleksi dulu.

Kembali cerita rumahnya yang jauh, aku pernah agak malam dari daerah BSD Serpong sekitar pukul 21.00 wib, naik anggkot ke Tanggerang, turun di Tangcity, angkot masih ada terlihat saat itu, tapi untuk tujuan yang arah Mesjid Agung Tanggerang udah gak ada, awalnya berharap dari sana bisa naik angkot lagi, terpaksa lah naik ojek. sampai di Mesjid Agung dekat Terminal,  angkot juga udah pada sepi, dan waktu udah jam 23.00 wib, akhirnya aku harus naik angkot sampai persimpangan arah Kutabumi, dari sana katanya ada angkot kerumahnya.

Angkot-angkot ditanggerang ini, sangat setia loh, angkot-angkot yang ada saat itu tak sedikitpun bergerak dari tempat ngetemnya menaikkan penumpang, kalian tau kenapa? Mereka menunggu penumpang KRL terakhir, bayangkan setianya mereka. Aku terpaksa ngikut, sehingga pukul 00.00 wib berlalu aku baru sampai di persimpangan untuk pindah angkot lagi, sudah taukan apa yang terjadi? angkotnya sudah tidak ada lagi.

Akhirnya aku di jemput, dan tiba dirumahnya sudah pukul 01.40 wib. Kami tidak langsung tidur saat itu, karena yang satu ini patner diskusi yang gak pernah mau kalah, mata udah dipejamkan tetap aja ngomongnya lanjut.

Sepanjang harus menyelesaikan daftar list inap di jakarta akhirnya aku sudah jelas jadi manusia nomaden, tak punya tempat tetap. seru juga sih, tapi merepotkan. Dibalik itu semua, yang sampai sekarang aku masih harapkan, adalah adanya konektifitas anatara teman aku yang satu dan yang lain, harapan ini sebenarnya dilandasi akan keyakinan bahwa aku dan kawan-kawan adalah bagian dari generasi yang produktif dan mampu berkarya, dalam bentuk apapun.
Karena dalam lain hal, stidaknya ketika kita terkoneksi, banyak hal yang mampu kita lakukan bersama, saling memberi beragam bentuk dukungan.

Andai kita terkoneksi.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram