Pilihan Penuh Tanjakan Menggapai Gunung Merbabu

Merbabu itu memiliki 3 jalur pendakian utama, 3 pesona, 3 puncak. Merbabu gunung yang memiliki pesona pemandangan terbaik di Jawa Tengah....


Merbabu itu memiliki 3 jalur pendakian utama, 3 pesona, 3 puncak. Merbabu gunung yang memiliki pesona pemandangan terbaik di Jawa Tengah. Bila mendengar Selo, Cunthel, dan Wekas, ketiganya adalah nama jalur yang bisa digunakan untuk melakukan pendakian namun Swanting jalur alternatif pendakian tercepat. Nama 3 Puncak yang ada di merbabu yaitu Puncak Trianggulasi, Puncak Kentengsongo serta Puncak Syarif.

Fajar perlahan mulai hilang, namun kami sulit menemukan Masjid yang dipinggir jalan di daerah antah berantah. Aku pribadi mulai gelisah apakah subuh ini akan berlalu begitu saja?
Tidak lama kemudian dikala mata yang belum dapat melihat jelas, aku sedikit berteriak pelan, disana ujarku. Sesaat yang mengatur kendali gas bertanya, kenapa?
Aku lupa bahwa aku sebelumnya hanya berdialog di pikiran dengan hati, dan saat itu hanya aku yang mengerti yang aku maksud.
Itu Masjidnya tegasku!

Mobil melambat dan menepi, takut waktu subuh berlalu (Habisnya batas akhir Shalat Subuh), gerakan sigap turun dari mobil, meregangkan badan sambil berjalan ketempat wudhu, akhirnya Ibadah dengan khitmad dapat kami tunaikan.

Setelah Sholat Subuh Matahari mulai menyibakkan cahayanya, entah masih ada waktu Subuh saat kami Shalat tadi

Setelah kami melaju, saat pagi belum usai kami sudah masuk di daerah Jawa Tengah. Hanya saja kesalahan dalam berpergian adalah terlalu besar dan dini berekspektasi. Aku saat itu sudah menganggap bahwa tujuan kami sudah dekat, namun saat waktu Shalat Zhuhur masuk kami masih berada setengah perjalanan dari waktu tiba di basecamp pos 1.

Saat istirahat untuk menunaikan Ibadah Zhuhur kami sekaligus menyempatkan makan siang diwarung makan berembel-embel Padang. Pada awalnya kami cuek dengan embel-embel tersebut, sebab warung makan itu tiada memiliki tanda-tanda kepadangannya, namun penjual mendengar percakapan kami yang isinya orang minang semua, pemilik warung bertanya remeh temeh untuk sekaligus memperkenalkan diri bahwa beliau orang minang juga yang sudah puluhan tahun di daerah tersebut. Tawaran menambah nasi melintas berlangsung beriringan dengan carito lamak.

Makan siang selesai, logistik dan kebutuhan lainnya kami penuhi saat itu juga lantaran kami dekat dengan pasar tradisional, namun tetap saja, toko market modren yang tumbuh bak jamur itu kami masuki. Siapa yang menyangka bisa menemukannya di Desa yang tidak jauh dari kaki Gunung. Mungkin ada di antara para traveller yang mengaku pendaki Gunung berharap toko yang menjamur itu dapat ditemui di puncak Gunung, atau setidaknya bisa ditemukan pada pos-pos pendakian. Kalau begitu, sekalian saja restoran cepat saji hahahah, biar bisa berminggu-minggu di Gunung, yang penting sedia uang banyak.

Mungkit karna projek Sepel menyapa pendaki ini yang membuat bangkrut, sebab biaaya operasinal terlalu tinggi, semetara pendaki berkunjung menunggu musim panas
Andai benaran ada bawaan para pendaki bisa lebih ringan setidaknya cukup perlatan untuk memanaskan air saja yang dibawa, makan dan minum tinggal beli, bisa buat sahur dan buka puasa sekalian

Perjalanan dilanjutkan, sempat tersesat nyasar salah jalan yang tak kunjung tanda-tanda jalan yang dilalui pada jalan yang benar, kami jadi sering harus berhenti untuk bertanya karena nyasar muter-muter di dalam desa. Walau sempat kesal dalam hati pukul 14.30 kami akhirnya dapat masuk jalur lintas utama. Memperkirakan butuh waktu yang singkat untuk dapat mencapai  daerah camp terakhir, kami memilih jalur pendakian via Swanting. Jalur Swanting jalur yang paling singkat dari jalur lainnya, perkiraan 7,5 jam perjalanan, tanpa istirahat.

Kami hampir 4 kali mutar arah, 3 kali bertanya sampai akhirnya menemukan gapura yang menerangkan jalan tersebut pendakian Merbabu via Swanting untuk menemukannya dengan mudah dan tidak nyasar, dibawah ini penjelasannya :

Dari kota Semarang Salatiga dan sekitarnya, ikuti saja rute Kopeng-Ketep Pass saja, selama perjalanan nanti kamu akan melewati beberapa jalur pendakian lainnya.
 Setelah sampai di pertigaan jika kamu belok kekiri nantinya akan menuju Ketep Pass, bila lurus nanti akan menuju ke Kecamatan Candimulyo, Magelang, ambillah jalan arah menuju Ketep Pass (belok kiri).
Setelah sekitar 3 km dari pertigaan tersebut kamu akan menemukan pertigaan lagi dengan gapura kecil disamping jalan (sebelah kiri) bertuliskan “Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Swanting”, namun sayangnya tulisannya kecil, hanya terlihat jika kamu dari arah Ketep Pass, karna bukan dari arah tersebut yang menyebabkan kami sampe balik arah 4 kali.
Selanjutnya silahkan ikuti petunjuk tersebut hingga kamu sampai di Basecamp Suwanting.
Untuk mudahnya, setelah kamu melewati gapura objek wisata Top Selfie yang berada di sebelah kanan jalan, beberapa kilometer lagi akan menemui belokan kekanan, dan gapura kecil bertuliskan "Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Swanting" tersebut tepat setelah belokan dengan jalan berupa cor non aspal.

Merahnya buat matah perih
Matahari sudah tidak lagi tampak namun langit tetap terang dibalut kabut yang terlihat sangat dekat. Namun jam masih menunjukkan pukul 15.40 kami tiba di basecamp yang dicari cari sejak tadi siang. disambut hangat oleh para penghuni basecamp, dipersilahkan untuk beristirahat. Mengangkut barang dari mobil ke basecamp, semua orang pasti dapat melihat kami cukup terburu buru, semua gerak cepat, mengemas barang memilih bagian yang akan ditinggalkan, agar dapat mengurangi beban pendakian.

Tampang-tampang tampan masih tampak bahagia. Pendakian belum dimulai

Setalah packing selesai ibadah Ashar ditunaikan, pakaian diganti, administrasi dicukupkan. kami berkumpul untuk menyempatkan berphoto ria dan berdoa’a setelahnya. Basmalah menjadi pembuka langkahku memulai pendakian. Perlahan dan pasti jalanan sudah menanjak dari basecamp sebelum memasuki pintu rimba. Maka saat itu maksud perlahan dan pasti itu adalah nafas pasti tersengal, terdengar jelas oleh telinga ku, bergantian dengan detak yang terhentak bergantian bersama deru nafas.

Dipermulaan sebelum masuk pintu rimbah susunan sawah, jalan setapak perlahan tegas menawarkan tanjakan panjang

Baru saja awal mulai pendakian kami semua rata merasakan campur aduk sakit  dan sesak. Wajar saja, walaupun diantara kami di hari sebelumnya ada yang pemanasan, atau latihan, tetap saja beberapa jam sebelumnya kaki kami kaku bersempit-sempit di atas mobil, sehingga sungguh menyiksa saat awal pendakian.

Berbeda dengan aku yang mendadak diajak mendaki Gunung Merbabu, beberapa diantara kami, mesinnya sudah mulai panas, keduanya diantara kami bisa dikatakan Atlet Running Trail, silahkan perhatikan sepatu yang mereka pakai. Tak segan memacu berlari pelan namun stabil dengan beban keril, beberapa kami tertinggal aku yang paling belakang.

Keringat bercampur dengan hujan yang pelan dan pasti membasahi tubuh. Tipe jenis senyum yang tidak natural, pemaksaan menutupi kelelahan

Hujan yang malu-malu menghampiri sepenuh hati, membuat aku gelisah dan cemas,tidak pula membuatku buka pasang mantel hujan. Sesekali aku dapat menyusul dikala yang lain beristirahat, namun belum lama beristirahat atlet-atlet itu meneruskan perjalanan, membuat jedah istirahat kami yang ketinggalan menjadi tidak banyak.

Tersangka yang nanjak gas pool, yang sering meninggalkan rombongan
Saat itu sempat mengumpat dalam hati, lantaran pendakian serasa tidak memiliki teamwork. Sempat tersadar aku  segera istighfar, untuk menghindari terjadi hal yang tidak diinginkan. Sambil terus berjalan mencuri nafas mengutip oksigen yang gratis dari sang pencipta, serta ku sebut berulang dan pelan mengingatnya dalam hati. Saat itu hujan dengan rintiknya tetap terus menemani perjalanan sampai gelap dan membatasi pandangan. Head lamp di kepala mengurangi keraguan untuk melangkah, dan tidak dirasa perjalanan yang hampir keseluruhan tanjakan tanpa sabana terlalui sampai pos 3 sekitar pukul 22.00 tempat kami bermalam mendirikan tenda bersama pendaki lainnya yang lebih dulu memulai pendakiannya.

Mendirikan camp tenda saat malam sangat merepotkan, diperparah dengan hujan rintik yang tiada henti. Lebih satu jam kami baru dapat bersantai berselonjor meluruskan kaki, hingga akhirnya mempersiapkan makan malam. Makan malam selesai, Tent in talk (percakapan dalam tenda) berlangsung mengantar tidur, entah pukul berapa kami terlelap saat itu.

Malam yang basah dingin menemani tidur tanpa rencana pagi yang matang, namun berharap terjaga sebelum Sunrise menjelang.

Berlanjut Gunung Merbabu Dan Kisah Langkah Pulang Hingga Gugurnya Pendaki

You Might Also Like

0 komentar

Instagram